Friday, June 4, 2010

MENGURAI SEJARAH BANI ISRAIL, TITIK TOLAK AGAMA YAHUDI, KRISTEN DAN ISLAM, DAN MENGUPAS PERSENGKETAAN BAITUL MAQDIS

MENGURAI SEJARAH BANI ISRAIL; TITIK ASAL AGAMA YAHUDI, KRISTEN DAN ISLAM & PERSENGKETAAN BAITUL MAQDIS
Oleh: Mamat Rohimat
Sekilas Tentang Asal Muasal Bani Israil:
 Bani Israil berasal dari Bahasa Arab, yang terdiri dari kata bani yang berarti keturunan, dan Israil yaitu seorang nabi yang bernama Israil (nama lain dari Ya’kub)
 Israil adalah nama lain dari nama nabi Ya’kub. Ya’kub adalah anak laki-laki dari Ishak. Ishak adalah anak laki-laki dari Ibrahim, dan merupakan Saudara kandung dari Nabi Ismail. Dengan demikian, Israil adalah cucu dari Ibrahim dan merupakan keponakan dari Ismail.
Sekilas Tentang Masa Sebelum Israil (Masa Nabi Ibrahim, Nabi Ishak, dan Nabi Ismail)
 Allah menguji Ibrahim dengan beberapa ujian yang berat (termasuk menyembelih Ismail), dan Ibrahim berhasil menyempurnakannya. (QS: Al-baqarah;124).
 Karena itu, Allah mengangkat Ibrahim sebagai pemimpin manusia (QS: Al-baqarah; 124).
 Nabi Ibrahim bertanya kepada Allah, apakah pengangkatan sebagai pemimpin manusia itu berlaku bagi keturunannya? Allah menjawab, janji pengangkatan sebagai pemimpin manusia tidak berlaku bagi keturunan Ibrahim yang dzolim. Dengan demikian, keturunan Ibrahim yang shalih juga terjanjikan oleh Allah untuk menjadi pemimpin manusia (QS: Al-baqarah; 124).
 Ibrahim memiliki dua orang anak, yaitu Ismail dan Ishak. Keduanya adalah orang shaleh, dan karenanya menjadi pemimpin manusia (nabi) sebagaimana yang terjanjikan.
 Dari Ishak, lahirlah anak lelaki yang bernama Ya’kub yang merupakan nama lain dari Israil. Ya’kub adalah orang yang shaleh, dan karenanya menjadi nabi sebagaimana yang dijanjikan.
 Dari keturunan Ya’kub, lahirlah hampir seluruh nabi yang diturunkan. Tentu saja mereka yang shaleh. Nabi-nabi yang merupakan bani Israil (keturunan Israil/keturunan Ya’kub) antara lain selain Nabi Ya’kub (Israil), Ibrahim, Ismail dan keturunan Ismail (Muhammad), Luth, Shalih, Hud, Nuh, Idris, Adam.
 Dengan demikian, Nabi Yusuf; Nabi Musa; Nabi Harun; Yunus, Nabi Syuaib; Nabi Ayub, Nabi Zakariya; Nabi Yahya; Nabi Daud; Nabi Sulaeman; Nabi Dzul Kifli; Ilyas, Ilyasa, dan Isa adalah keturunan dari Israil (Ya’kub) yang merupakan keturunan Ibrahim yang shaleh sebagai wujud janji Allah. Allah memang tidak pernah mengingkari janjinya.
Sekilas tentang Masa Israil (Ya’kub dan Yusuf):
 Yusuf adalah anak kesayangan nabi Ya’kub, diantara sebelas anak yang lain.
 Hal ini tentu saja nabi Ya’kub sangat menyayangi Yusuf, karena Yusuflah yang akan meneruskan kenabian, sebagaimana juga diberikan kepada Ya’kub, Ibrahim dan Ishak yang merupakan leluhur Yusuf (QS: Yusuf; 6)
 Tanda-tanda kenabian itu, ditandai dengan mimpi Yusuf, bahwa sebelas bintang, matahari dan bumi bersujud terhadapnya (QS: Yusuf; 4).
 Kasih saying yang terlihat berlebih kepada Yusuf, membuat kecemburuan diantara anak-anak Ya’kub yang lain (QS: Yusuf; 8).
 Rasa cemburu tersebut, membuat mereka berencana menghilangkan Yusuf dari kehidupan mereka agar kasih sayang Ya’kub tercurah kepada mereka. Ada yang menyarankan untuk membunuh Yusuf. Ada pula yang menyarankan membuang Yusuf. Namun, keputusan yang diambil adalah membuang Yusuf di sumur tua (QS: Yusuf; 9-10).
 Mereka pun membuang Yusuf ke Sumur Tua. Lalu mereka pulang ke Ayahnya (Ya’kub) dengan membawa darah palsu, dan mengatakan bahwa Yusuf dimakan binatang buas. Namun, Ya’kub tahu kalau anak-anaknya sedang berbohong. Ya’kub tahu kalau Yusuf tidaklah mati dimakan binatang puas (QS: Yusuf; 18).
 Tibalah musafir (pedagang) yang hendak berdagang dari Madyan ke Mesir. Musafir itu menurunkan timba untuk mengambil air. Namun didapatinya seorang anak laki-laki (Yusuf). Lalu mereka menyembunyikan Yusuf ke dalam barang dagangannya. (QS: Yusuf; 19).
 Pedangan itu menjual Yusuf ke Orang Mesir, yang tidak lain adalah raja Mesir dengan harga yang Murah (QS: Yusuf; 20).
 Orang yang membeli Yusuf itu (raja Mesir) meminta istrinya (zulaikha) untuk memberikan Yusuf pakaian yang baik dan menjadikannya anak (QS: Yusuf; 21).
 Saat Yusuf telah dewasa, ia adalah seorang laki-laki yang tampan. Bahkan, dialah yang diceritakan laki-laki tertampan di dunia. Tidak heran, jika Zulaikha (Istri raja) menginginkan Yusuf, dan mengajak Yusuf melakukan ‘hubungan badan’. (QS: Yusuf; 23).
 Hampir-hampir saja Yusuf pun tergoda. Namun, Allah menyelamatkannya. (QS; Yusuf; 24).
 Yusuf dan Zulaikha berlari menuju pintu. Yusuf berusaha kabur, namun Zulaikha berusaha menghalanginya. Namun, di depan pintu, keduanya bertemu Sang Raja (QS: Yusuf; 25).
 Zulaikha mengatakan kepada suaminya (Sang Raja), kalau Yusuf hendak ‘memerkosanya’. Zulaikha meminta Yusuf dipenjara atau disiksa dengan siksaan yang pedih (QS: Yusuf; 25).
 Yusuf membela diri, dan mengatakan Zulaikha-lah yang menginginkannya (QS: Yusuf; 26).
 Lalu didatangkan seorang bayi yang masih kecil untuk dijadikan saksi. Bayi berkata:”jika pakaian yusuf sobek di depan, maka Zulaikha yang benar,dan Yusuf yang salah. Namun, jika baju yusuf sobek di belakang, maka Zulaikha yang salah, dan Yusuf yang benar”. (QS; Yusuf; 26-27).
 Ternyata, setelah di cek, Baju Yusuf sobek di belakang. Karena itu, Yusuflah yang benar, dan Zulaikhalah yang salah. (QS: Yusuf; 28).
 Mengetahui keadaan tersebut. Zulaikha dijadikan bahan ‘omongan buruk’ oleh para wanita (QS: Yusuf; 30).
 Mengetahui cacian para wanita tersebut, Zulaikha mengumpulkan mereka, member pisau dan buah-buahan (untuk diiris). Lalu, Yusuf diminta menemui mereka. Melihat ketampanan Yusuf, mereka merasa takjub, dan tak sadar telah memotong jari-jari mereka (QS: Yusuf; 31).
 Akhirnya Zulaikha balas ‘mencaci’ mereka. Zulaikha pun mengakui, kalau dirinya menginginkan Yusuf, (seperti halnya mereka), namun Yusuf menolak. Karena itulah, Zulaikha hendak menghukum Yusuf. (QS: Yusuf; 32).
 Karena Khawatir tergoda oleh godaan para wanita, Yusuf berdo’a untuk dijauhkan dari godaan tersebut. Bahkan, Yusuf lebih menyenangi untuk tinggal dipenjara, daripada berzina dengan para wanita tersebut. (QS: Yusuf; 33).
 Allah mengabulkan do’a Yusuf untuk menghindarkannya dari godaan, dengan memasukkan Yusuf ke penjara (QS: Yusuf; 34).
 Yusuf mengikuti agama bapak-bapaknya, yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’kub; yang mana, mereka tidak menyekutukan Allah, dengan sesuatu apa pun (QS: Yusuf; 38).
Yusuf diangkat menjadi Penguasa:
 Raja bermimpi melihat tujuh sapi yang gemuk dimakan tujuh sapi yang kurus. Raja pun melihat tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir gandum yang kering. Lalu, Raja meminta pendapat takwil mimpi tersebut kepada para pemuka Mesir. Namun, tak ada satu pun yang mampu menakwilkannya. (QS: Yusuf; 43-44).
 Singkat cerita: Yusuf memberikan takwil, bahwa akan datang masa selama tujuh tahun yang subur. Maka hasil pertanian selama masa subur tersebut hendaknya tidak dihabiskan kecuali hanya sedikit saja yang dimakan.Karena akan ada masa sulit selama tujuh tahun pula. (QS: Yusuf 47-48).
 Lalu raja mengangkat Yusuf sebagai orang kepercayaannya. Yusuf lalu menjadi bendahara Mesir, karena beliau orang yang terpercaya dan berpengetahuan (QS: Yusuf; 55).
Saudara-Saudara Yusuf (Bani Israil) Diajak Ke Mesir:
 Tatkala saudara-saudara Yusuf (Bani Israil) datang, Yusuf memeluk orang tuanya (Ya’kub), dan mengatakan: “masuklah ke Mesir, insya Allah, aman”. (QS: Yusuf; 99)
Saat Mesir Diperintah oleh Fir’aun:
 Setelah pemerintahan di masa Yusuf berakhir, Mesir diperintah oleh Firaun.
 Firaun menjadikan bani Israil sebagai hamba sahaya.
 Fir’aun melakukan tindakan-tindakan yang kejam terhadap bani Israil.
 Diantara kekejaman terhadap bani Israil, adalah dengan membunuh anak laki-laki dari bani Israil, dan membiarkan hidup anak wanita untuk dijadikan pelayan nafsu mereka (QS: Al-baqarah; 49).
Allah mengutus Musa untuk membebaskan bani Israil:
 Bani Israil adalah turunan nabi-nabi Allah, yang Allah hendak selamatkan.
 Diantara bani Israil, ada orang yang shaleh dan ada pula orang yang dholim.
 Salah satu misi Musa adalah untuk membebaskan bani Israil dari kekejaman Fir’aun (QS: Ad-Dukhan; 18).
 Musa juga meminta Fir’aun untuk tidak menyombongkan diri terhadap Allah (QS: Ad-Dukhan; 19).
 Jika pun Fir’aun tidak mau beriman terhadap Musa, Musa meminta fir’aun membiarkan Musa pergi bersama kaumnya (QS: Ad-Dukhan; 21).
 Musa pergi ke negeri Seberang (Baitul Maqdis), melalui laut Merah. Lalu Firaun ditenggelamkan di Laut Merah (QS: Ad-Dukhan; 24).
Bani Israil Diperintahkan untuk memasuki Baitul Maqdis:
 “ Dan ingatlah ketika Kami mengatakan: masuklah kamu sekalian (Bani Israil) ke dalam kampung tersebut (Baitul Maqdis), maka makanlah darinya apapun yang kalian inginkan, dan masukilah pintu kampung tersebut dengan bersujud, seraya mengatakan (khithatun-Ya Allah, semoga Engkau mengampuni dosa-dosa kami); maka Kami akan mengampuni dosa-dosa kalian semua. Dan kami akan menambah nikmat kami, kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS: Al-baqarah; 58). Atas dasar ayat tersebut, Tanah itu diklaim sebagai “Tanah Terjanji”
 “Namun mereka mengganti ucapan “khithatun-semoga Engkau mengampuni dosa-dosa kami” dengan ucapan yang lain, yang tidak diperintahkan (“habbatun fi sya’rah-biji gandum di dalam gandum); maka Allah menurunkan kepada orang-orang yang dholim siksaan dari langit, disebabkan mereka berbuat kefasikan”. (QS: Al-baqarah; 59).
 Kebiasaan sebagian bani Israil (yang dholim) adalah becanda, menyelisihi, bermain-main, walaupun terhadap Allah (perintah Allah). Karena itulah, Allah menyiksanya.

Bani Israil banyak berbuat dosa yang menyebabkan kemarahan Allah, padahal nikmat yang diberikan Allah sangat besar:
 Bani Israil menyembah sapi, saat nabi Musa dipanggil oleh Allah. (QS: Al-baqarah; 51)
 Lalu Allah memaafkan mereka, agar mereka bersyukur (QS: Al-baqarah; 52).
 Allah memberi Musa kitab Taurat da furqan (syariat) agar Bani Israil mendapatkan petunjuk (QS: Al-baqarah; 53).
 Bani Israil mengatakan: tidak akan beriman kepada Musa sampai melihat “dzat” Allah, dengan mata telanjang. (QS: Al-baqarah; 55).
 Lalu mereka disambar oleh ‘suara’ dan mematikan mereka. Lalu Allah menghidupkan kembali, agar mereka bersyukur. (QS Al-baqarah; 55-56).
 Dan lain-lain.
Setelah Masa Nabi Musa, Bani Israil Terusir oleh Jalut (Gholiat):
 “Tidakkah engkau mengetahui para pemuka dari bani Israil setelah Musa, tatkala mereka berkata kepada nabi mereka (Nabi Syimwael-tafsir jalalaen), utuslah kepada kami seorang raja, yang memimpin kami berperang di jalan Allah. Nabi mereka berkata, boleh jadi ketika perintah perang diberikan kepada kamu, kamu tidak mau berperang. Mereka mengatakan: mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari desa kami dan anak-anak kami. Maka tatkala mereka diperintahkan berperang, mereka berpaling kecuali hanya sebagian kecil dari mereka. Dan Allah, maha mengetahui kepada orang-orang yang dholim” (QS; Al-baqarah; 246).
 Sifat sebagian bani Israil (yg dholim), meminta “perintah”. Namun saat mereka dikasih perintah, mereka berpaling.
 “Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kamu Thalut untuk menjadi raja. Mereka berkata, kenapa Thalut yang menjadi raja kami?Dan kami lebih berhak menjadi raja dari pada Thalut dan Thalut tidak diberi harta yang banyak. Nabi mereka berkata, sesungguhnya Allah telah memilih Thalut untuk menjadi raja kalian, dan menganugrahinya keluasan ilmu dan kekuatan fisik. Dan Allah memberikan kerajaannya kepada yang ia kehendaki. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) dan maha mengetahui.” (QS: Al-baqarah; 247).
 Begitulah sifat sebagian bani Israil (yg dholim). Mereka mau menerima ‘keputusan’, asal menguntungkan mereka dan sesuai kehendak mereka. Mereka menolak keputusan itu, jika tidak sesuai dengan kehendaknya. Walaupun itu keputusan Allah, Tuhan mereka.
 “Maka tatkala Thalut keluar bersama bala tentaranya, Thalut berkata; sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan melewati sungai. Barang siapa yang meminum dari air sungai itu, maka ia bukan dari golonganku.Barang siapa yang tidak meminum air sungai itu (kecuali hanya seteguk dengan tegukan tangan), maka ia adalah golonganku.Lalu mereka meminum air sungai itu, kecuali hanya sedikit dari mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman melewati sungai itu, mereka berkata sekarang kami tidak kuat lagi menghadapi Jalut dan tentaranya. Orang-orang yang meyakini akan bertemu dengan Allah berkata, berapa banyak golongan yang sedikit mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (QS: Al-baqarah; 249).
 Orang-orang dari Bani Israil yang dholim yang tidak beriman kepada Allah, telah menyerah dalam peperangan. Mereka tidak lagi ikut berperang bersama raja Thalut dalam melawan Jalut dan tentaranya. Sifat mereka memang selalu melawan perintah, baik perintah Allah, maupun perintah rajanya.
 “Maka tatkala orang-orang yang meyakini akan bertemu Allah itu tampak di mata Jalut dan tentaranya, mereka mengatakan: Ya Allah, penuhilah kami kesabaran dan teguhkanlah kedua telapan kaki kami, dan tolonglah kami untuk mengalahkan orang-orang yang kafir”. (QS: Al-baqarah; 250).
 “Maka mereka (Thalut dan orang-orang yang beriman dan masih berperang bersamanya) mengalahkan Jalut dan balatentaranya dengan izin Allah. Dan Daud membunuh Jalut. Dan Allah memberi Daud kerajaan dan hikmah serta mengajari apa-apa yang Allah kehendaki….”. (QS: Al-baqarah; 251).
 Kesimpulannya, bahwa: Daudlah yang mengalahkan dan membunuh Jalut. Dengan demikian, baitul maqdis telah direbut oleh Jalut sebelum masa kenabian Daud AS.
Baitul Maqdis di Masa Daud & Sulaeman;
 Daud dan orang-orang yang berperang bersama Thalut adalah bani Israil yang shaleh, yang tetap berperang bersama Thalut melawan Jalut.
 Adapun bani Israil yang membangkang dan meminum dari air sungai itu, dapat disimpulkan tidak ikut berperang. Karena itu, tidak bisa masuk ke baitul maqdis. Itulah, bani Israil yang kafir dan dholim, yang saat itu masih terusir dari baitul maqdis.
 Daud adalah raja dan nabi yang mengajarkan kenabian.
 Kerajaan nabi Daud diwariskan kepada puteranya Sulaeman.
 Dalam masa kerajaan sulaeman itulah, dibangun masjidil aqsa.
 Dengan demikian, golongan bani Israil yang menghormati masjidil aqsa, adalah keturunan dari bani Israil, pengikut Daud dan Sulaeman.



Yahudi:
 Yahudi, berasal dari bahasa Yahuda, yaitu keturunan dari Israil, yang artinya bangsa Yahuda.
 Yahuda, adalah keturunan dari Israil, yang dholim, karena menurut beberapa sumber, melakukan hubungan inses dengan menantunya, dan lahirlah bangsa yahudi.
 Karakter dari bangsa Yahudi memang selalu menentang dan merefleksikan sifat bani Israil yang dholim, yang karenanya janji kenabian tidak diberikan kepada mereka.
Yahudi dan Bani Israil:
 Yahudi termasuk bagian dari bani Israil.
 Sebagian dari bani Israil ada yang patuh kepada Allah, ada pula yang membangkang.
 Yahudi adalah termasuk bagian dari bani Israil yang membangkang.
Kelahiran Isa dan Kristiani:
 Isa diturunkan untuk membawa syariat baru dalam kitab Injil, seraya membenarkan kitab yang diturunkan sebelumnya (Zabur kepada Nabi Daud & Thaurat kepada nabi Musa)
 “dan tatkala Isa datang dengan membawa “bayyinah” (tanda-tanda kenabian/mukjizat/penjelasan), Isa berkata: sungguh aku datang dengan membawa hikmah dan agar aku menjelaskan kepada kalian sebagian dari yang kalian perselisihkan. Maka bertakwalah kepada Allah, dan taatilah aku” (QS: Az-Zukhruf; 63).
 “Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sembahlah Ia. Itulah jalan yang lurus”. (QS; Az-Zukhruf; 64).
 “Maka berselisihlah golongan-golongan diantara mereka (bani Israil). Maka celakalah bagi orang-orang yang dholim dengan adzab di hari yang pedih. (QS: Az-Zukhruf; 65).
 Isa lahir dari Maryam, padahal Maryam adalah seorang gadis yang tidak bersuami. Karena itulah, Maryam tidak menjawab saat ditanya oleh kaumnya. Siapakah anak itu?
 Isa menjawab: “Isa berkata, aku adalah hamba Allah, Allah memberiku kitab dan menjadikanku nabi” (QS; Maryam; 30).
 Namun, terdapat perbedaan ‘pendengaran bani Israil’. Isa mengatakan: “inni Abdullah” (QS: Maryam; 30), tapi sebagian bani Israil salah mendengar, sehingga mereka menyangka Isa mengatakan “inni ibnullah” (sesungguhnya aku adalah anak lelaki dari Allah).
 Bagi kaum yang menganggap bahwa yang didengarnya adalah inni ibnullah (aku adalah anak Tuhan), di situlah mereka menganggap Isa anak Tuhan (Tuhan Anak), dan tentu Maryam adalah Tuhan Ibu. Di sinilah bermula konsep trinitas.
 Di situlah mereka berselisih, karena perbedaan “pendengaran mereka”. Padahal, isa mengatakan, sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, itulah jalan yang lurus (QS Az-Zukhruf; 64).
 Allah menghakimi perselisihan diantara dua golongan tersebut, dengan mengatakan: “Allah tidak memiliki Anak dan Juga tidak diperanakkan” (Al-Ikhlas; 3).
 Allah membantah kalau Isa anak-Nya: “ tidak pantas bagi Allah memiliki anak. Maha Suci Allah (dari tuduhan kalau Allah punya anak). Ketika Allah menetapkan suatu perkara, maka Allah akan mengatakan: jadilah kamu, maka jadilah ia”. (QS: Maryam; 35).
 Allah juga menyangkal konsep trinitas, tentang adanya Tuhan Bapak (Allah), Tuhan Ibu (Maryam), dan Tuhan Anak (Isa), dengan mengatakan: “sungguh telah kafir orang yang mengatakan sesungguhnya Allah adalah salah satu dari yang tiga (satu dari trinitas), dan tidak ada tuhan kecuali Tuhan yang Satu, jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakana, niscaya akan menimpa kepada orang-orang kafir dari mereka adzab yang pedih” (QS: Al-Maidah;73).
 “ Tidaklah Isa Al-Masih anak lelaki Maryam itu kecuali seorang Rasul yang mana telah datang rasul-rasul sebelumnya,dan Ibunya (Maryam) adalah seorang wanita yang benar (baik-baik), keduanya (Isa dan Maryam) sama-sama makan makanan; perhatikan bagaimana kami menjelaskan kepada mereka ayat-ayat, lalu perhatikan bagaimana mereka bisa berpaling”. (QS: Al-Maidah; 75).
 Isa dan Maryam bukanlah Tuhan. Karena tidak ada Tuhan selain Allah. Isa dan Maryam adalah manusia biasa, yang makan dan minum. Mereka bukanlah Tuhan. Mereka tidak menganggap dirinya Tuhan, dan tidak pula meminta dipertuhankan.
 Dengan demikian, Allah membatalkan anggapan orang yang menganggap Tuhan itu ada tiga (trinitas). Isa bukanlah Anak Tuhan dan bukan pula Tuhan, Isa adalah Rasul sebagaimana Rasul-Rasul sebelumnya seperti Musa dan Ibrahim. Ibunya (Maryam) adalah wanita baik-baik, bukanlah penzina. Maryam bukan pula Tuhan dan Bukan Istri Allah, karena Allah tidak pantas memiliki istri. Adapun penciptaan Isa yang lahir tanpa seorang ayah, adalah mudah bagi Allah. Hal tersebut sama dengan penciptaan makhluk lain seperti Adam, bumi, dan langit, yakni cukup mengatakan:” Jadilah Engkau, maka jadilah ia”.
Isa memberikan kabar gembira akan datang rasul yang bernama Ahmad:
 “Dan ketika Isa anak lelaki Maryam berkata: wahai bani Israil! Sesunguhnya aku adalah utusan Allah untuk kalian (bani Israil, dan bukan untuk yang lain), membenarkan apa yang telah ada sebelum aku dari kitab taurat, dan memberikan kabar gembira akan lahir rasul setelahku, yang bernama Ahmad” (QS: As-Shaf; 6).
Kelahiran Nabi Muhammad:
 Kelahiran rasul yang dijanjikan dalam kitab Taurat dan Injil, sebenarnya dinanti-nantikan oleh bani Israil. Mereka bahkan meminta pertolongan kepada Allah dengan diturunkannya rasul yang dijanjikan itu (QS: Al-baqarah; 89).
 “dan ketika datang kepada mereka kitab (Al-qur’an) dari Allah yang membenarkan kitab yang ada pada mereka (Taurat, Jabur, dan Injil), dan mereka sebelumnya meminta pertolongan (dengan diturunkannya nabi yang dijanjikan) untuk mengalahkan orang-orang kafir, Namun tatkala datang kepada mereka apa yang mereka ketahui (nabi sebagaimana sifatnya mereka ketahui di dalam taurat dan injil), mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah dilimpahkan kepada orang-orang yang menginkari (kafirin)”. (QS: Al-baqarah; 89).
 Begitulah sifat mereka (sebagian bani Israil). Jika tidak sesuai dengan keinginan hati mereka, bahkan ketetapan Allah pun, diingkari. Hal ini bukan sekali saja, pada saat nabi Muhammad diturunkan, namun juga berkali-kali. Termasuk, saat ternyata yang diangkat jadi raja adalah Thalut (bukan mereka), mereka pun mempertanyakannya.
 Mereka meminta diturunkannya rasul yang dijanjikan, karena harapan mereka, rasul itu berasal dari golongan mereka (bani Israil), sebagaimana kebanyakan dari nabi-nabi yang diturunkan itu.
 Namun, Allah hendak memenuhi janji-Nya, sebagaimana dijanjikan kepada nabi Ibrahim, bahwa kenabian akan pula diturunkan kepada turunan Ibrahim yang shaleh, termasuk keturunan Ismail. Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.
 Sudah sekian lama, tidak ada keturunan Ismail yang diangkat menjadi nabi. Sampai tibalah waktunya, Muhammad yang merupakan keturunan Ismail, diangkat sebagai nabi terakhir.
 Karena itu, kebanyakan bani Israil (yang mengaku dirinya Yahudi-dan Nasrani) tidak mengakui kenabian Muhammad, karena bukan berasal dari golongannya: ”alangkah buruknya suatu perkara, mereka menjual (kebahagiaan yang dijanjikan kepada mereka jika mereka beriman kepada Muhammad) dengan mengingkari apa yang Allah turunkan (Muhammad, Al-qur’an), karena hasud (iri) Allah menurunkan keutamaan-Nya (kenabian) terhadap orang yang Allah kehendaki dari hamba-hamba-Nya (Muhammad sbg bani Ismail, dan bukan bani Israil). Maka mereka kembali (kepada Allah) dengan kemarahan Allah yang bertambah-tambah. Dan bagi orang-orang yang mengingkari (kafirin), siksaan yang hina.” (QS: Al-baqarah; 90).
Islam dan kelahiran Muhammad:
 Kedatangan Muhammad adalah untuk mengajak manusia ke dalam ajaran yang benar, sebagaimana diajarkan (dibawa/dianut) oleh para nabi terdahulu dari sebelum nabi Ibrahim (Adam, Idris, Nuh, Hud), semasa Ibrahim & Luth, dan setelah Ibrahim (Ismail, Ishak, Ya’kub dan nabi-nabi keturunan Ya’kub termasuk Musa dan Isa), yaitu untuk hanya menyembah Allah saja, dan tidak menyekutukan dengan menyembah sesuatu apa pun. Itulah agama yang lurus. Itulah agama Islam.
 Kedatangan para nabi itu tidaklah menghapus ajakan untuk hanya menyembah Allah saja, dan tidak menyekutukan dengan yang lain (ajaran tauhid), sehingga pada dasarnya seluruh nabi yang diturunkan memiliki agama yang sama, yaitu Agama Islam.
 Adapun ‘cara/metode’ penyembahan (kebaktian) kepada Allah-lah, yang berbeda-beda antara nabi yang satu dengan nabi yang lain. Cara atau metode penyembahan (kebaktian/berbakti/pengabdian/mengabdi) kepada Allah tersebut disebut dengan syariat. Syariat tersebut disesuaikan dengan kondisi jaman. Seperti shaum (puasa) diwajibkan kepada Muhhammad dan umatnya, juga diwajibkan kepada umat sebelum Muhammad. Namun, caranya yang berbeda (waktu puasa, lamanya puasa, dll).
 Contoh lain: jaman nabi Musa, caranya bertobat adalah dengan dibunuh: “dan ingatlah ketika nabi Musa berkata kepada kaumnya, wahai kaumku! Sesungguhnya kalian telah dholim kepada diri kalian dengan menjadikan sapi sebagai sesembahan, maka tobatlah kalian dengan membunuh diri kalian. Kematian diri kalian itu lebih baik bagi kalian di hadapan Yang Menjadikan (Tuhan) kalian, maka Yang Menjadikan (Tuhan) kalian, akan menerima tobat kalian. Sesungguhnya, Tuhan kalian Maha Menerima Tobat dan Maha Penyayang”. (QS: Al-baqarah; 54).
 Namun, tobat seperti itu dianggap sudah tidak relevan dalam konteks saat ini. Karena itulah, Allah menurunkan syariat baru, untuk menghapus syariat lama (yang dianggap sudah tidak relevan, bahkan terlalu berat), dan agar manusa bersyukur. Dengan demikian, tobat dalam syariat nabi Muhammad adalah dengan mengakui kesalahan, menyesal atas kesalahan tersebut, dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan, lalu meninggalkan perbuatan tersebut.
Analisis Siapa Yang Berhak atas tanah baitul maqdis:
 Bumi dan langit adalah milik Allah
 Allah akan memberikan bumi (daerah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
 Saat Bani Israil dibawa oleh Musa, maka Bani Israil-lah yang diberikan hak oleh Allah untuk menempatinya.
 Namun, Bani Israil melakukan dosa sehingga Allah menghukum mereka.
 Hukuman itu salah satunya berupa pengusiran oleh bangsa lain (Jalut/Goliath & Tentaranya)
 Allah memerintahkan bani Israil dibawah pimpinan Thalut untuk membebaskan tanah baitul maqdis. Namun, kebanyakan dari bani Israil “menyerah”, dan tidak melanjutkan peperangan. Mereka menjadi tidak memiliki hak atas tanah baitul maqdis.
 Sebagian yang lain di bawah pimpinan Thalut termasuk diantaranya Daud, melanjutkan peperangan; dan Daud membunuh Jalut (Goliath).
 Hak kepemimpinan selanjutnya (kerajaan) berpindah kepada Daud.
 Setelah Daud meninggal, hak kepemimpinan diwariskan terhadap anaknya Sulaeman.
 Dari sini, terlihat bahwa hak atas tanah baitul maqdis adalah keturunan Daud & Sulaeman dan keturunan orang-orang yang berperang thd Jalut.
 Krn Daud & Sulaeman adalah nabi, yang menganut ajaran Tauhid yaitu hanya menyembah Allah, tentu saja para pengikutnya adalah orang-orang yang mengikuti ajarannya.
 Salah satu peninggalan Sulaeman adalah masjidil haram, sehingga orang yang mengagungkan dan menjaga masjidil haram-lah yang berhak atas baitul maqdis.
 Mereka itulah, yang kini dinamakan bangsa palestina. Bangsa Palestina bisa merupakan bani Israil yang shaleh dan tetap memegang teguh ajaran Tauhid, sehingga ketika Muhammad datang, mereka membenarkannya. Mereka itulah termasuk orang-orang yang disebut Muslimin.
 Dengan demikian, orang (bangsa) yang berhak menduduki baitul maqdis tentu saja adalah bangsa yang penguasaannya didasarkan perintah Allah, yaitu Daud dan keturunannya (pengikutnya).
Pembentukan Negara Israel:
 Negara Israel didirikan 14 Mei 1948, hal itu bisa disebut ‘pemberian’ oleh Liga Bangsa-Bangsa (LBB), yang sebelumnya “dikuasai” Inggeris.
 Masalahnya, penguasaan oleh Inggeris tentu saja tidak memiliki hak, dan karena bukan peruntukkannya.
 Penyerahan oleh LBB juga tidak sah, karena LBB tidak punya hak atas tanah baitul maqdis.
 Pengambilan oleh Inggeris (LBB) dapat disebut sebagai “merebut daerah orang lain”, dan bukan “mengambil” daerah sendiri.
 Penyerahan daerah tersebut ke bani Israel yang dholim, sayangnya kepada pihak yang saat mereka berhak memperjuangkannya, namun tidak mau melakukannya. Karena itu, hak bani Israel tersebut menjadi tercabut.
 Penyerahan tanah tersebut tidak kepada bani Israel yang shaleh , yang mewarisi leluhurnya atas tanah yang diambil secara hak (Thalut & Daud). Mereka itulah, yang mengikuti ajaran nabi Daud & Sulaeman dan kini disebut bangsa Palestina.
Hikmah dan Pelajaran yang Bisa diambil:
 Jika ingin naik ‘status’, harus lulus dalam ujian kenaikan tingkat. Hal ini seperti dicontohkan oleh Allah, menguji terlebih dahulu Ibrahim, dan setelah lulus, baru mengangkat Ibrahim menjadi pemimpin manusia (nabi/rasul) sekaligus kholilullah (kekasih Allah).
 Jika menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang visioner. Hal ini dicontohkan Ibrahim, untuk juga meminta kepemimpinan itu tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk keturunannya.
 Jika kita memiliki rasa sayang yang berbeda kepada salah satu anak kita, maka jangan terlalu ditunjukkan secara berlebihan di depan anak-anak yang lain. Karena mungkin akan memicu ‘kecemburuan’, dan mungkin akan mencelakakan anak yang kita sayangi.
 Jika kita merasa ‘cemburu’ kepada orang lain, yang sebenarnya tidak berbuat jahat kepada kita, maka kita jangan berusaha mencelakakannya. Karena boleh jadi, suatu waktu kita membutuhkan pertolongannya.
 Jika kita memiliki masalah, maka jangan meminta diakhirinya masalah itu dengan diganti dengan masalah lain. Dikhawatirkan, hal tersebut terkabul, sebagaimana yang dialami Yusuf.
 Untuk bisa menjadi pemimpin terutama yang berkaitan dengan pengelolaan kekayaan, maka dua hal yang menjadi pertimbangan adalah amanah (terpercaya, mampu menjaga kepercayaan) dan berpengetahuan.
 Jangan meminta suatu perintah, jika kita khawatir tidak mampu melaksanakannya.
 Jangan mengolok-olok, mempermainkan ucapan, ketentuan, ataupun perintah ‘atasan/orang tua’ apalagi kepada Tuhan.
 Jangan hanya mau menerima pemimpin yang berasal dari kelompoknya, jika itu telah merupakan suatu keputusan yang sah. Karena hal itu adalah kebiasaan orang Yahudi.
 Dalam suatu keadaan dimana bangsa sedang dalam keaadan tidak aman (dalam masa penjajahan), maka sebaik-baiknya pemimpin adalah yang luas ilmunya dan kuat fisiknya.
 Untuk menjadi pemimpin, ilmu dan penguasaan terhadap hikmah adalah mutlak. Tidak boleh memilih pemimpin yang bodoh.

Thursday, February 25, 2010

SOLUSI MENGHENTIKAN SEMARAK PEMBUNUHAN

Berikut adalah berita pembunuhan terbaru:
KEBUMEN-Tragis kejadian yang menimpa Ana Zuraida (23), warga RT 3 RW 2 Desa Tersobo, Kecamatan Prembun, Kebumen. Mahasiswi semester delapan Jurusan Dakwah, Fakultas Sastra Arab, Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta itu tewas dibunuh saat di tempat kosnya, Jalan Timoho, Sapen, Gk 1 No 437, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta, Selasa (23/2).
Sumber:
http://www.kebumenkab.go.id/index.php?name=News&file=article&sid=862&theme=Printer

Kenapa Pembunuhan begitu sering terjadi? Tentu, harus ada solusi untuk mencegahnya. Berikut saya cantumkan solusinya, semoga menjadi inpirasi bagi para pembuat kebijakan, untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi pembunuhan yang frekuensinya terus meningkat.

Di dalam Alqur'an, Allah memberikan jalan keluar untuk mengatasi pembunuhan, yaitu:
Surat Albaqarah (178):"Wahai Orang-orang beriman!Diwajibkan atas kamu melaksanakan hukum qishas (hukum balasan setimpal) di dalam pembunuhan;seorang laki-laki merdeka dg seorang laki-laki merdeka, seorang hamba sahaya dengan hamba sahaya, dan seorang wanita dengan seorang wanita.Barang siapa pembunuh yg dimaafkan oleh saudara (yang terbunuh), maka hendaklah pembunuh itu mengikutinya dengan perbuatan yg baik, dan menyeraahkan 'tebusan' kepada keluarga terbunuh dg baik. Itulah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Barang siapa yg berbuat aniaya setelah penebusan itu, maka baginya siksaan yang pedih.

QS Al-baqarah ayat 179: Dan bagimu di dalam "penegakan hukum qishas", terdapat suatu kehidupan (yg tenteram dan terjaga), wahai orang-orang yang berpikir (memiliki akal, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.

Solusi:

Seandainya org yg melakukan pembunuhan itu, diberi hukuman mati, lalu org-org sebanyak-banyaknya diminta menyaksikan prosesi pembunuhan itu, dan dikatakan kepada mereka, barang siapa yg melakukan pembunuhan org lain, maka baginya pun akan diberikan hukuman mati sbgmana yg disaksikan itu, maka org yg hendak melakukan pembunuhan, akan "berpikir 1000x sblm melakukannya", krn jika tetap melakukan upaya pembunuhan, sama halnya dia juga akan minta dibunuh. Krn itulah, kehidupan akan tenteram. Begitulah, jika kita org berpikir, akan mengerti hikmah tersebut.

Krn itupulalah, org beriman diwajibkan menegakkan hukum qishas itu, u/ menegakkan kedamaian di muka bumi. Selain itu, penegakkan hukum tersebut juga akan menjadikan kita menjadi orang-orang yang bertakwa.

Namun, ada orang-orang yang berkata, bahwa hukuman qishas itu melanggar HAM (Hak Asasi Manusia), karena menghilangkan nyawa orang lain.Tidakkah mereka berpikir, bahwa pembunuh itu justru telah melanggar HAM, yaitu hak dasar manusia untuk hidup, dan karenanya HAM-nya untuk hidup, menjadi hilang. Lagi pula, hukuman qishas itu untuk melindungi HAM, yaitu hak manusia untuk hidup, supaya dihargai oleh setiap orang.

Memang, seperti dikatakan dalam Al-Qur'an, hanyalah orang-orang yang memiliki akal (yang mampu berpikir dengan jernih sajalah), yang memahami tentang pentingnya hukum qishas itu diterapkan untuk melindungi kehidupan, dan tentu saja untuk melindungi Hak Asasi Manusia (HAM) yang paling asasi, yaitu hak untuk hidup. Tetapi, akan banyak sekali orang yang tidak memiliki akal yang jernih, sehingga akan menolaknya.

Wednesday, February 25, 2009

Reorganize Our Lifes

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

All of us born to the world with a mission set by Allah. All of us given different potential.But, all of us have a same chance to get everything that can make us get true happyness.

Today, i found that to get our true happyness, we should:
-firstly, know who we are......this concept on strategic management called internal analysis
-then, set what're our objectives on this lifes......vision and mission
-then, calculate or evaluate a gap between "where are we now" and "where do we want to be in the future"......gap analysis
-then, consider many alternatives of "vehicle" to bring us to the 'place' we want to live......think about strategies
Maybe, there are many considerations to choose "trasportation moda'" or "vehicle" to choose: distance, time, cost, inprastructure, etc.
One thing, if we have chosen a 'vehicle', stop considering "if i choose other vehicle, maybe...".Stop thinking like it.

Wallahu 'Alam


Mamat Rohimat
Assalamu'alaikum
Kali ini, penulis akan membahas mengenai Tauhid Rubbubiyah dan pentingnya Ikhlas hanya Allahlah Rab kita.
Tauhid, berasal dari kata wahhada yuwahhidu tauhiidan, yaitu mashdar (tauhiidan) yang artinya mengesakan (meyakini/menekadkan/mengikrarkan hanya satu) "sesuatu" secara sungguh-sungguh.

Secara Isthilah, tauhid artinya mengesakan Allah (meyakini,menekadkan, mengikrarkan bahwa Allah adalah satu) secara sungguh-sungguh, yaitu keyakinan yang tidak diliputi suatu keraguan sedikit pun.

Terdapat beberapa pengelompokkan Tauhid:
-Sebagian ulama mengelompokkan tauhid ke dalam 3 macam:
a. Tauhid Rubbubiyyah
b. Tauhid Uluhiyah
c. Tauhid Asma was Shifat
-Sebagian ulama mengelompokkan tauhid ke dalam 3 macam:
a. tauhid fiddzat
b.tauhid fis shifat
c. tauhid fil af'al

Kali ini, penulis akan menguraikan mengenai tauhid rubbubiyyah:
rubbubiyyah berasal dari Rabba Yurabbi Rabban, Mashdar Rabban yang artinya yang mengurusi dengan sesungguhnya.

Rubbubiyyah artinya Yang Mengurusi.
Sehingga, Tauhid Rubbubiyyah artinya mengesakan Allah atau meyakini, menekadkan, mengikrarkan dengan keyakinan yang jazim (sempurna) bahwa hanya Allahlah Yang Mengurusi alam, Yang Menciptakan alam semesta, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang Memberi rizki, Yang Menentukan Takdir makhluk-Nya, Yang Menyembuhkan, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan "mengurusi".

Jika kita sudah men-Tauhid-kan Allahlah Rab kita, maka tidak ada pilihan yang lebih pantas dibandingkan dengan ikhlas bahwa Allahlah satu-satunya Rabb Yang Mengurusi kita, Yang Menentukan takdir kita, Yang Menghidupkan dan Mematikan kita, Yang Menyembuhkan dan Yang Memberi kita penyakit, Yang Memberikan Rizki, dll.

Jika kita telah ikhlas bahwa hanya Allahlah Rabb kita, Insya Allah akan berpaidah:
-membuat hati kita lebih tenteram karena Allah tak akan menyianyiakan kita
-saat kita mengalami kegagalan atau kesedihan, kita tidak terlarut dalam kesedihan itu karena kita sadar bahwa semua itu terjadi atas kehendak dan takdir Allah.
-apa pun yang terjadi dalam diri kita, kita tidak akan mengenal istilah "putus asa". Karena orang yang berputus asa tidak lain adalah kafir, atau mengingkari bahwa Allah Rabb yang menentukan segala yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi.

Tips:
Agar kita merasa tenteram dalam menjalani kehidupan ini sehingga siap dengan apa pun yang akan terjadi atas kehendak dan Takdir Allah, maka:
-masuklah ke dalam 'sistem jaminan' Allah. Hal ini karena Allah tak pernah "wan prestasi" atas janji yang telah diucapkannya. Allah tak pernah mengingkari janji-janji-Nya.
-Janji Allah yang dimaksud, secara umum adalah Jadilah orang yang beriman dengan iman yang benar, dan beramallah dengan amal shalih

Janji-Janji Allah itu tertuang dalam 'kontrak' yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an dan Rasulullah sebutkan dalam "As-Sunah".

Dengan begitu, daripada kita mengkhawatirkan hidup ini, lebih baik kita berbondong-bondong masuk ke dalam suatu sistem jaminan Allah yang menjadikan kita seorang yang telah mengikatkan diri pada 'perjanjian-kontrak' dengan Allah yang menjamin "keselamatan dan keberuntungan" di dunia dan akhirat.

Semoga kita Menerima Janji dan Jaminan Allah atas keselamatan kita di dunia dan akhirat. Amin


Wallahu A'lam


Wassalamu'alaikum

Mamat

Episode selanjutnya: meyakini Tauhid Rubbubiyyah tidak cukup untuk menyelamatkan manusia. Insya Allah

MELURUSKAN ISU GENDER DENGAN BENAR

Pada tanggal 8 Februari 2009, saya mendengar wawancara Hanung Brahmanto (Sutradara Film Berkalung Sorban) di TV ONE. Saya tidak akan memberikan komentar terhadap Film itu (karena sampai saat ini saya belum menontonnya), namun saya ingin menguraikan "akar" dari kontroversi itu sendiri.

Dewasa ini, ada suatu paradigma di barat yang menganggap bahwa dalam Islam, kedudukan wanita rendah. Karena itu, Islam dianggap "tidak menghargai" kedudukan seorang wanita dibandingkan kedudukan seorang pria. Karena itu pula ada suatu gerakan di Barat yang memperjuangkan "kesetaraan Gender". Gerakan itu berkembang dan menjadi suatu trend di berbagai belahan penjuru dunia untuk memberikan "kesetaraan Gender" antara laki-laki dan wanita dalam setiap kehidupan.

Sebagaian orang yang mengaku 'mengerti Islam' dan bahkan menganggap dirinya orang Islam Intelektual yang modern memiliki pendapat:
-Islam memang tidak menghargai HAM wanita sehingga hukum-hukum Islam, harus "diamandemen"
-Islam memberikan kesetaraan jender antara laki-laki dan wanita.

Pada kesempatan ini, penulis akan menguraikan bagaimana sesungguhnya Hukum Islam dalam masalah kedudukan wanita yang dipertentangkan itu.

Sebelum menguraikan lebih lanjut, penulis mengingatkan beberapa kaidah dalam mengambil hukum Islam:
-seorang Muslim, artinya orang yang berserah diri kepada Allah. Dengan begitu, baru disebut Muslim jika telah menyerahkan seluruh urusan kepada Allah. Tentunya, seseorang tidak pantas mengaku seorang Muslim jika dalam hatinya tidak tunduk kepada Allah dan memiliki persangkaan yang buruk terhadap Allah. Apalagi, tidak pantas seorang Muslim yang berusaha "menentang" Allah dan Hukum-Hukum Allah.
Suatu ungkapan yang paling pantas bagi seorang Muslim adalah: Sami'na Wa Atho'na-Kami dengar hukum-hukum Allah itu, dan kami menaatinya.
-seorang Muslim tidak layak untuk mengikuti (suatu pemikiran atau ajaran), tidak layak melakukan suatu perbuatan yang tidak memiliki ilmu (dari Al-Islam) tentang boleh/sah/benarnya suatu pemikiran atau tindakan itu. (An-Isra: 36).
Lebih jauh dari ayat itu, tidak boleh seorang Muslim mengatakan sesuatu yang tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Tentu saja dikecualikan jika mengatakannya untuk bertanya atau proses mencari tahu sesuatu tersebut. Jika orang yang tidak mengetahui, lalu sok tahu dan mengatakannya, maka bisa menimbulkan fitnah bagi orang awam. Itulah orang yang sesat dan menyesatkan.
Analogi: pernahkah Anda menanyakan arah ke suatu tempat, lalu orang memberi tahu Anda ke arah/tempat yang salah?Tentunya, Anda jika mengikuti petunjuk orang yang 'sok tahu' itu tidak akan membantu Anda sampai ke tempat yang dituju, namun akan semakin tersesat dan menjauh.

Baik, penulis akan menguraikan mengenai kedudukan wanita di dalam Islam:
-Sebelum Islam diturunkan, ada suatu pemikiran di masyarakat Yahudi dan Kaum Musyrikin terhadap wanita:
Yahudi:
memiliki anggapan yang merendahkan wanita: seorang wanita yang merupakan salah satu dari keturunan Yahuda tidak diakui. Ada juga hukum-hukum yang mereka buat sendiri dengan merendahkan wanita:
seorang wanita haid tidak boleh makan bersama-sama laki-laki;
jika seekor kambing mengandung dan bayi dalam kandungannya meninggal, maka laki-laki dan wanita boleh memakannya. Namun, jika bayi kambing itu hidup, maka hanya laki-laki yang boleh memakannya;dll.
Kaum Musyrikin;
Jika ada bayi wanita yang lahir, maka mereka merasa malu. Agar mereka tidak malu di masyarakat, mereka mengubur anak gadis itu hidup-hidup. Hal ini pernah dilakukan Umar Bin Khatab sebelum masuk Islam.

Sungguh, Yahudi dan Kaum Musyrikin tidak memuliakan derajat wanita. Bahkan, Kaum Musyrikin rela melepaskan hak untuk hidup bagi wanita untuk menutupi rasa malunya.

Setelah Islam turun:
-bayi laki-laki ataupun wanita adalah anugrah Allah, semuanya harus dipelihara dengan baik.
-Seorang anak laki-laki diperintahkan untuk lebih taat kepada ibunya (wanita) melebihi ketaatan kepada ayahnya (laki-laki). Sungguh itu hukum Allah. Walaupun Muhammad adalah seorang laki-laki, namun Muhammad tidak mengutamakan laki-laki (ayah) untuk lebih ditaati anak-anaknya.
-tidak ada kewajiban bagi seorang wanita untuk berperang (jihad). Walaupun demikian, seorang wanita tetap memiliki peluang untuk mendapatkan pahala sebagaimana pahala yang diperoleh syuhada.
"The Lower Risk, The higher returns"
-Seorang wanita diberikan jaminan dan perlindungan serta kasih sayang oleh 4 orang laki-laki dalam posisi yang berbeda:ayah, saudara laki-laki, suami, dan anak laki-laki.
-Seorang wanita yang telah menikah, maka seluruh kebutuhan hidupnya di dunia menjadi tanggungan seorang suami. Seorang suami juga mempertanggungjawabkan dirinya dan istrinya di akhirat kelak. Subhanallah, berat ya.Mudah-mudahan, kita sebagai laki-laki diberikan kemampuan.

Benar, ada suatu perlakuan hukum fikih antara laki-laki dan wanita dalam hal:
-seorang laki-laki menjadi imam di dalam Rumah Tangga dan diberikan keunggulan beberapa derajat dibandingkan wanita. Hal ini karena:tanggung jawab laki-laki yang harus menafkahi istri dan mempertanggungjawabkan istri, memberikan mahar, dan lain-lain.
-seorang laki-laki memiliki hak 2 kali lipat dibandingkan seorang wanita atas harta waris. Kembali, ini juga karena laki-laki diberikan tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan wanita.
"The Higher Risk, The Higher Return"
Ini adalah keadilan Allah.
Lagipula, seorang wanita tidak wajib menafkahi suami dan anaknya.
Seorang wanita juga akan "tertutupi' oleh bagian dari suaminya.
Subhanallah, Allah telah mendesain hukum-Nya begitu sempurna. Adakah lagi orang yang tak mampu memahaminya?Beruntunglah orang yang mampu memahami kebaikan dari hukum-hukum Allah. Semoga kita termasuk orang yang beruntung.
-dalam aturan pernikahan, seorang laki-laki dapat menikah tanpa seijin wali. Namun, seorang wanita harus menikah dengan ijin wali.
Ini juga karena tanggung jawab yang diberikan kepada ayah untuk melindungi anak wanitanya. Adapun, seorang laki-laki harus mempertanggungjawabkan dirinya sendiri.

Namun, percayalah. Kita sebagai Muslim harus menyerahkan diri kepada Allah dan meyakini semua yang Allah tetapkan adalah yang paling adil. Karena Allah adalah Al-Adl, Dzat Yang Maha Adil

Percayalah, terdapat hikmah yang besar atas semua hukum-hukum Allah. Walaupun secara sekilas, 'orang bodoh' menganggap Allah tidak adil dalam memperlakukan wanita, namun justru disitulah letak keadilan Allah.
Allah akan memberikan hak yang lebih besar;Namun juga diimbangi dengan kewajiban/tanggung jawab yang lebih besar.
Allah seakan-akan memberikan cobaan/ujian yang besar, namun diimbangi dengan rahmat dan ampunan yang jauh lebih besar.

Bagaimana pun, setiap laki-laki dan wanita tidak pantas untuk saling dipertentangkan.
-laki-laki dan wanita memiliki kelebihan dan kekurangan, dan karenanya Allah mensyariatkan adanya pernikahan untuk saling melengkapi kekurangan itu.
-yang membedakan antara kedudukan manusia, entah laki-laki ataupun wanita adalah ketakwaannya. Yang berbeda adalah, sebagian dari cara "the way", bagaimana ketakwaan itu bisa diraih.
-setiap laki-laki ataupun wanita memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan 'the great reward' dari Allah, berupa surga/rahmat, dan ampunan-Nya.
-hal itu asalkan; beriman dan beramal shalih

Mudah-mudahan setelah membaca artikel yang singkat ini, kita tidak lagi mempertentangkan antara laki-laki dan wanita.Hal ini karena laki-laki dan wanita adalah kebijaksanaan Allah yang menciptakan makhluknya secara berpasang-pasangan. Lalu, kenapa harus selalu dipertentangkan?kenapa tidak dijadikan itu sebagai dasar kita bersyukur?karena atas dasar perbedaan itulah, Allah memiliki maksud agar laki-laki dan wanita tidak saling menyombongkan diri dan mengakui kebutuhan/kekurangan masing-masing sehingga bisa terbentuk "kerja sama" yang sangat erat.

Wallahu A'lam. Penulis juga tidak merasa paling Tahu. Namun itu, yang setahu penulis. Kiranya jika membaca ada kekeliruan, mohon diingatkan.

Wassalam

Mamat

Kenali Dirimu, Niscaya Engkau Kan Mengenal Tuhanmu

"Man 'arafa nafsahu faqod 'arafa rabbahu-barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya".
Topik pertama sekarang ini, kita akan mencoba menguraikan suatu nikmat terbesar yang diberikan kepada manusia, yang karenanya, manusia berhak mendapatkan surga. Nikmat itu adalah mentauhidkan Allah dengan tauhid yang benar. Kalimat tauhid itulah yang Allah perintahkan kepada semua Rasul-Nya dari Nabi Adam, Nabi Nuh,...Ibrahim,..Musa,Isa sampai nabi Muhammad SAW.

Kita akan mencoba menjelaskannya dengan menjawab beberapa pertanyaan tentang pengenalan diri sehingga bisa mengenal Tuhan:
Q: Siapakah diri kita?
A: Kita adalah manusia. Tentunya tidak ada seorang pembaca yang menolak disebut manusia. Betulkah?
Q: Siapakah manusia itu?
A: Manusia adalah makhluk hidup. Begitu juga dengan hewan adalah makhluk hidup. Ada persamaan yang dekat dari manusia dan binatang yaitu bernafas, bergerak, makan, memiliki darah, memiliki nafsu seksual, dan melangsungkan perkawinan.
Q: Adakah perbedaan antara manusia dengan binatang?
A: Jika berdasarkan kepada ciri-ciri di atas tentu tidak ada perbedaan yang signifikan antara manusia dengan hewan. Perbedaan yang menonjol adalah manusia memiliki akal dan hati nurani untuk bisa memilih cara yang ditempuh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti bagaimana mencari makanan dan bagaimana memenuhi kebutuhan seksualnya dengan melangsungkan pernikahan. Manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan demikian, tatkala manusia tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, maka disitulah derajat manusia itu turun menjadi sama atau lebih hina dari hewan.
Q: Bagaimana manusia itu bisa ada?
A: Kalau kita ditanya kenapa kita bisa lahir, tentu jawabannya karena kita dilahirkan oleh ibu kita. Kita lahir dari hasil hubungan antara ayah dan ibu kita. Begitu seterusnya, sampai muncul pertanyaan siapakah pasangan manusia pertama yang ada sehingga terlahir anak manusia.
Q: Siapakah pasangan manusia pertama yang merupakan nenek-moyang kita?
Para ilmuwan telah berusaha mencari jawabannya selama berpuluh-puluh tahun sampai mereka meninggal dunia, namun mereka tidak juga menemukan jawaban yang memuaskan. Kalau begitu, jika kita menggunakan pendekatan yang sama untuk mencari jawaban tersebut, tentu sangat banyak waktu yang terbuang dan belum pasti juga menemukan jawabannya. Padahal, pertanyaan itu harus dijawab dengan cepat sehingga kita masih memiliki waktu untuk melanjutkan kepada pertanyaan lain. Ingat, pertanyaan itu hanya bagian awal untuk kita bisa sampai kepada tujuan akhir, yaitu perjalanan menuju kesuksesan yang sempurna. Jika pertanyaan sepele saja tidak segera kita selesaikan, bagaimana mungkin kita bisa menentukan langkah lanjutan dan sampai kepada tujuan akhir kita, sukses yang sempurna?
Oleh karena itu, kita memerlukan informasi yang bisa dipercaya untuk menjawabnya. Kita bisa menggali berbagai penelitian untuk dijadikan bahan pertimbangan. Yang paling penting adalah dengan menggunakan potensi terbesar yang dimiliki kita sebagai manusia yaitu akal dan hati nurani sebagaimana yang telah penulis singgung sebelumnya.
A: manusia pertama adalah Adam. Istrinya adalah Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam.
Atas dasar informasi tersebut, manusia saat ini yang berjumlah lebih dari 6 Miliar di seluruh dunia, berasal dari keturunan Adam dan Hawa. Masuk akalkah dari sepasang suami-istri bisa tercipta miliaran orang?Tentu saja masuk akal. Silakan Anda hitung, jika Adam dan Hawa memiliki anak-anak laki-laki dan wanita, terus anak laki-laki dan anak wanitanya itu dikawinkan sehingga melahirkan anak lagi, terus berlajut sampai ribuan tahun, tentunya sangat masuk akal sampai terbentuk lebih dari 6 miliar manusia di seluruh dunia.
Q: Bagaimana manusia pertama (Adam) bisa ada? Apakah Adam diciptakan, menciptakan dirinya sendiri, ataukah langsung ada tanpa perantaraan penciptaan?
A: Untuk menjawab pertanyaan itu, kita akan coba analisis beberapa kemungkinan jawaban di atas.
-Adam (manusia pertama) ada karena dia menciptakan dirinya sendiri. Masuk akalkah? Jika Adam menciptakan dirinya sendiri, berarti ia harus ada dahulu. Pertanyaan kita belum terjawab, bagaimana Adam bisa ada? Dengan demikian, kemungkinan Adam Ada dengan menciptakan dirinya sendiri dapat dipastikan keliru.
-Adam ada (lahir) tanpa suatu perantaraan penciptaan. Adam ada dengan sendirinya. Masuk akalkah? Jika Adam ada tanpa ada suatu penciptaan atas dirinya, bagaimana caranya?Kalau Adam ada dengan sendirinya, mengapa Adam sekarang jadi tidak ada? Mengapa Adam meninggal dunia kalau Adam ada dengan sendirinya?Kalau Adam pernah lahir, lalu kemudian meninggal dunia, tentu keberadaan Adam atau ketidakadaan Adam bukan atas kehendaknya, melainkan ada kekuatan lain yang menghendaki.
Dengan demikian, sangat masuk akal jika Adam ada karena ada yang menciptakan. Dia yang menciptakan Adam dan mematikan Adam. Dia menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam agar Adam tidak merasa kesepian. Di sinilah terlihat bahwa Adam adalah manusia biasa yang sempurna, menginginkan seorang istri untuk menemani dirinya, mengobati kesepiannya, sekaligus memenuhi kebutuhan biologisnya.
Q: Setelah kita setuju Adam pasti diciptakan oleh “Suatu Kekuatan lain”, Siapakah yang menciptakan Adam itu?
A: Pertanyaan ini bukanlah suatu pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Sebagian orang yang memperoleh jawaban dengan benar akan sampai kepada kedudukan yang mulia. Namun, kebanyakan orang tak mampu memecahkan dan menemukan jawaban atas pertanyaan ini dengan benar. Untuk bisa menemukan jawaban pertanyaan ini dengan benar, kita sebagai manusia harus terbuka dan menggunakan akal serta hati nurani secara optimal. Akal dan hati nurani bisa berguna membantu menemukan jawaban atas pertanyaan ini jika terlebih dahulu bersih dari prasangka, kebencian, keyakinan yang salah, dan memegang dogmatis yang tak rasional (Zero Mind).
Sebagaimana telah disepakati di atas, bahwa Adam (manusia pertama) dan juga berlaku bagi alam semesta, pasti diciptakan oleh “Suatu Kekuatan”. Suatu kekuatan yang menciptakan Adam pasti ada sebelum Adam diciptakan. Kegiatan menciptakan dalam bahasa Arab disebut kholaqa (fiil madhi, artinya telah menciptakan), yakhluqu (fiil mudhari, artinya sedang atau akan menciptakan), sedangkan yang menciptakan disebut kholiq (isim fail, artinya yang menciptakan) dan yang diciptakan (Adam) disebut makhluq (isim maf'ul, artinya yang diciptakan).Dengan demikian, “Suatu Kekuatan” yang menciptakan (to create, bahasa inggris) Adam dan alam semesta bisa disebut “Kholiq” (creator). Penciptaan yang dimaksud khusus kepada penciptaan manusia pertama (Adam) dan alam semesta yang merupakan pencipta pertama dan tidak melibatkan pihak lain. Tentu saja penciptaan ini berbeda dengan penciptaan seni seperti musik atau lagu karena membutuhkan penciptaan awal (penciptaan manusianya). Untuk membedakan pencipta pertama tersebut, dalam bahasa Arab biasa ditambahkan dengan alif lam ma'rifat untuk menunjukkan kekhususan dengan penciptaan lain sehingga “Suatu Kekuatan” yang menciptakan Adam dan alam semesta itu disebut sebagai “Al-Kholiq” (Sang Pencipta, Maha Pencipta). Penambahan alif lam (dalam bahasa Arab) sama dengan penambahan “the” dalam bahasa inggeris sebagai the finite article sehingga The Creator adalah pencipta Adam dan alam semesta sebagaimana telah dijelaskan dalam kalimat sebelumnya.
Q: Jika Al-Kholiq mampu menciptakan Adam (manusia pertama) dan alam semesta, tanpa bergantung kepada bantuan pihak lain, apa sifat yang pasti dimiliki oleh Al-Kholiq itu?
A: Sebagaimana telah dibahas, Al-Kholiq menciptakan Adam (manusia pertama) dan alam semesta ini sebagai pencipta pertama yang tidak bergantung kepada penciptaan sebelumnya. Dengan demikian, dapat diyakini bahwa Al-Kholiq pasti memiliki sifat-sifat sebagai berikut;
-Ada: bagaimana mungkin menciptakan Adam kalau Al-Kholiq tidak ada.
-bermaksud: bagaimana mungkin Adam tercipta, jika Al-Kholiq tidak bermaksud menciptakannya.
-berkuasa: bagaimana mungkin Adam dan alam semesta ini terbentuk kalau Al-Kholiq tidak mampu mewujudkannya.
-mengatur: bagaimana mungkin terbentuk keteraturan dalam ciptaannya jika Al-kholiq bukan seorang pengatur yang baik.
-berbeda dengan ciptaannya: Al-kholiq tentu tidak akan menciptakan ciptaannya sama dan setara dengan-Nya
-dan lain-lain.
Q: Setelah manusia menyadari bahwa dirinya dan alam semesta ini diciptakan oleh Al-Kholiq yang maha kuasa, yang maha mengatur, yang maha melindungi, dan manusia menyadari kelemahan dirinya terhadap gejala alam seperti bencana, gempa, dan kematian, apa yang dilakukan manusia?
A: Saat itulah manusia mulai mengagungkan, mulai memohon perlindungan, mulai memohon diselamatkan kepada sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan.
Kegiatan mengagungkan, memohon perlindungan dan keselamatan disebut mempertuhankan, menyembah, dan beribadah. Mempertuhankan dalam bahasa Arab disebut AaLAHA (fiil madhi-telah mempertuhankan), YuuLIHU (Fiil mudhari-sedang atau akan mempertuhankan), Iilahan (Masdar-Tuhan atau yang dipertuhankan). Dengan demikian, jelas bahwa yang seharusnya dipertuhankan (IilAah) adalah Al-Khaliq. Hal yang sering terjadi dalam kehidupan manusia adalah kegiatan mempertuhankan itu dialamatkan kepada selain Al-Kholiq.
Untuk memberikan makna yang khusus bahwa yang dipertuhankan (Iilaah) itu khusus hanya Al-Kholiq, dan bukan yang lain, maka dalam bahasa Arab biasa ditambahkan dengan alif lam ma'rifat sehingga yang dipertuhankan itu selain disebut Al-Kholiq bisa juga disebut Al-IiLaah. Karena dalam lafad Al-IiLaah terdapat hurup ilat (huruf sakit) yaitu hamzah yang menanggung beban (harkat kasrah) sedangkan Lam (hurup sehat) di depannya tidak menanggung beban harkat (berharkat mati), maka untuk memberika keadilan, dilakukan transfer beban (harkat kasrah) dari hamzah (hurup sakit) kepada hurup lam (hurup sehat) sehingga lafadnya menjadi ALiiLaah. Lafad ALiiLaah mengandung dua hurup ilat mati yaitu Alif dan Ya di apit antara Lam berkasrah (Li) dan Lam berfathah (Laah) dan tidak memberikan faidah bahkan memberatkan pengucapan, sehingga kedua hurup ilat yang mati tersebut dibuang sehingga menjadi AliLaah. Dalam lafad AliLaah terdapat dua hurup satu jenis yaitu Lam yang berhimpitan sehingga wajib membaca secara idghom dengan cara mematikan hurup lam yang pertama, lalu memasukkannya ke dalam hurup lam yang kedua sehingga dibaca Al-Laah. Dalam penulisan bahasa Arab, hurup lam pertama dimasukkan ke dalam hurup lam ke dua diganti dengan tasydid, huruf elat (alif) yang dibuang diganti dengan penulisan garis tegak sehingga dalam hurup lam dibaca dua harkat. Dalam bahasa Indonesia, biasa ditulis Allah.
Atas dasar penjelasan di atas, Allah adalah nama Dzat yang menciptakan semestalah (Al-Kholiq) yang hak dan seharusnya dijadikan tuhan, dan bukan yang lain. Di sinilah inti kalimat yang bisa menyelamatkan manusia di akhirat kelak tatkala ia mati dengan meyakininya dalam hati tanpa keraguan sedikitpun, tak peduli apakah dahulunya ia pernah berzina ataukah pernah melakukan dosa besar yang lainnya. Kalimat itu adalah: Laa Ilaha Illallah (Tidak ada Tuhan yang hak disembah, kecuali Allah).
Dari sini benarlah ungkapan di atas bahwa: barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Pembahasan kita tentang seri mengenal diri kita telah sampai kepada mengenal Allah, Tuhan kita, Al-Kholiq, Dzat Yang menciptakan dan mengurus kita serta seluruh alam.
Q: Bagaimana jika seseorang menyembah selain Allah?
A: Itulah orang yang menyekutukan Allah (Musyrik-berbuat Syirik kepada Allah). Syirik merupakan dosa terbesar yang tidak akan diampuni oleh Allah, kecuali sebelum meninggal dia sudah bertobat dengan bertauhid (mengesakan Allah, menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah).
Q: Bagaimana caranya melakukan penyembahan kepada Allah?
A: Logika sederhana, Allah pasti hanya akan menerima penyembahan sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Untuk itulah, Allah mengutus rasul untuk memberitahukan bagaimana seharusnya manusia melakukan penyembahan kepada Allah. Allah menyamakan ketaatan kepada Rasulullah sama dengan ketaatan kepada Allah.
Q: Cukupkah orang hanya mengakui bahwa Allah merupakan Tuhan yang menciptakan alam semesta, namun dia beribadah tidak sesuai dengan petunjuk Allah yang dibawa oleh rasul-Nya?
A: Tentu saja tidak cukup. Kaum musyrikin menyembah berhala Uzza dan Latta dengan mengatakan bahwa sebenarnya mereka menyembah Allah, namun karena Allah tidak terlihat, mereka menyembah Uzza dan Latta sebagai pelantara. Akan tetapi, tetap saja Allah tidak menerima persembahan mereka. Beribadah dan menyembah Allah hanya akan diterima jika:
-ikhlas karena Allah
-sesuai dengan tuntunan Rasulullah

Wallahu A'lam

Mamat Rohimat.